08 February 2020


Oleh: 
Prof. Dr. KH. Saidurrahman, M. Ag
Pemikiran Prof. K.H. Yudian Wahyudi, Ph.D di Bedah di UINSU Medan

Pada hari Ketiga Pekan Ilmiah dan Book Fair UINSU, kegiatan bedah buku yang menampilkan karya-karya dosen UINSU kembali dipadati pengunjung yang umumnya adalah mahasiswa UINSU Medan. Di antara karya yang ditampilkan adalah karya Tgs. Prof. Dr. K.H. Saidurrahman, M.Ag dan Dr. Azhari Akmal Tarigan, M. Ag yang berjudul, Rekonstruksi Peradaban Islam Perspektif Prof. K.H. Yudian Wahyudi, Ph.D. Hadir dalam bedah buku dihari ketiga, Warek I UINSU, Prof. Dr. Saparuddin, M. Pd, Wadek III FITK UINSU, Dr. Messiono dan Perwakilan Penerbit Prenada-Kencana, Fajri Bakar, dan ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas.


Buku yang disebut terakhir menarik bukan saja karena tema yang dibicarakan sangat penting –Rekonstruksi Peradaban Islam- dan berhubungan dengan keberadaan dunia Islam masa kini, namun lebih dari itu, buku tersebut mengkaji pemikiran Prof. Yudian Wahyudi yang saat ini sedang menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Tegasnya seperti yang dikatakan moderator Khaliq Dosen FITK UINSU, di dalam buku ini kita melihat bagaimana pemikiran seorang Rektor UIN Jogja yang fenomenal dan dalam tingkat tertentu juga kontroversial, dikaji dan ditela’ah oleh Rektor UINSU Medan.  


Tampil sebagai Pengkaji adalah salah seorang penulis buku Rekonstruksi Peradaban Islam, Dr. Azhari Akmal Tarigan, M. Ag yang saat ini juga sedang menjabat Dekan FKM UINSU Medan. Dalam paparannya, Akmal menyatakan, diskusi tentang kemunduran peradaban Islam telah berlangsung lama. Para pemikir telah mengkaji faktor-faktor kemunduran umat Islam  dan sekaligus menyampaikan analisis-analisisnya serta tawaran solusi. Sebut saja yang terakhir adalah, Ali Allawi yang mengatakan peradaban Islam mengalami kemunduran, bahkan jika tidak segera diatasi akan punah, disebabkan hilangnya spiritualitas. Jauh hari sebelumnya, Amir Sakib Arselan mengatakan umat Islam mundur karena meninggalkan kitab sucinya sedangkan bangsa lain maju karena mereka meninggalkan kitab sucinya. Agaknya yang mengherankan itu adalah, sebab kemunduran umat Islam telah dikaji, solusi juga telah ditawarkan, namun mengapa umat Islam tetap saja tertinggal. Jangan-jangan, sebab umat Islam tidak bangkit adalah karena, pilihan sikap kesejarahan yang keliru dam diperparah dengan diagnose yang tidak tepat yang mengakibatkan solusi yang ditawarkan juga tidak memberi dampak signifikan bagi kebangkitan umat Islam. 

Menurut Akmal, dalam konteks inilah Prof. Yudian tampil dengan pikirannya yang berbeda dengan kebanyakan pemikir atau intelektual Islam lainnya. Menurut Prof. Yudian, masalah ketertinggalan umat Islam saat ini diantarnya disebabkan salah membaca agama. Tegasnya keliru dalam menangkap pesan Al-Qur’an. Akibatnya Al-Qur’an sebagai hudan tidak dapat difungsikan secara optimal. Padahal Al-Qur’an itu adalah penjelasan (tibyanan) bagi segala sesuatu. Semua penjelasan tentang Allah SWT, manusia dan alam semesta ini ada di dalam Al-Qurán, baik itu pesannya eksplisit ataupun implisit”.

Bagi Yudian, lanjut Akmal, Al-Qur’an itu mengandung dua hal yang amat sangat mendasar, alam semesta (termasuk manusia) dan tauhid. Alam bukan saja dimengerti sebagai ayat-ayat kauniyah apa lagi jika hanya dipahami sebatas karunia Allah SWT untuk manusia. Namun alam memiliki hukumnya tersendiri yang mau tidak mau harus dikuasai manusia. Kendati Al-Qur’an menegaskan bahwa alam telah ditundukkan buat manusia (taskhir) namun manusia perlu menguasai dan menaklukkan alam dengan mengetahui apa yang disebut hukum kepasangan dan Hukum Keseimbangan.

Hukum kepasangan atau hukum keseimbangan ini pada gilirannya akan melahirkan apa yang disebut dengan experimental sciences atau ilmu-ilmu alam. Lewat ilmu ini, alam dapat “ditundukkan” atau “dikuasai” dan dimanfaatkan untuk kemajuan dan kesejahteraan manusia. Sayangnya, ini pula yang dilupakan oleh umat Islam dalam waktu yang sangat panjang.  Atau dengan bahasa yang lebih keras, tanpa sadar, umat Islam telah membuang ilmu-ilmu alam atau sains itu dari kehidupannya. 

Sampai di sini,  dalam konteks membangun kembali (rekonstruksi) peradaban Islam, mengembalikan experimental sciences  menjadi ilmu pokok menjadi niscaya. Bukan saja di level perguruan tinggi seperti yang tanpak hari ini pada UIN-UIN di Indonesia, namun harus dimulai dari Aliyah bahkan Tsanawiyyah. Namun harus diingat, menurut Yudian, ilmu-ilmu alam seperti matematika, fisika, biologi, kimia, astronomi dan lainnya haruslah diintegrasikan dengan agama. 

Masih menurut Akmal, tidak kalah menariknya adalah ketika Yudian memahami hadis Nabi yang berbunyi, Al-Ulama Warasat al-anbiya. Selama ini hadis ini dipahami keliru. Ulama atau ustaz dipandang pewaris atau pelanjut Nabi Muhammad SAW. Padahal pada hadis tersebut, Al-Ulama itu jamak dan bermakna banyak. Kalau satu orang disebut alim. Artinya, saat ini kita memerlukan ulama dalam jumlah banyak. Namun yang dimaksud ulama bukan hanya ahli fikih, tafsir, hadis atau teolog. Al-ulama adalah yang siapa saja yang menguasai beragama cabang ilmu pengetahuan yang berlandasarkan Al-Qur’an. Sedangkan Al-Anbiya artinya nabi-nabi yang juga banyak. Kalau satu orang nabi bukan al-anbiya tetapi al-nabi. Satu kekeliruan kalau yang dimaksud al-anbiya’ adalah Nabi Muhammad SAW saja. Oleh karena itu, hadis di atas diartikan, orang Islam harus menjadi pewaris seluruh nabi-nabi. Harus ada orang Islam yang mewarisi Nabi Nuh As yang ahli dalam bidang perkapalan. Mewarisi Nabi Daud yang ahli dalam bidang industri baja atau besi. Nabi Yusuf As ahli manajemen pangan atau ahli ekonomi, Nabi Isa As yang ahli dalam bidang Ilmu Kesehatan dan obat-obatan. Akhirnya kita memerlukan banyak sekali yang oleh Prof. Yudian sering disebutnya dengan K.H. Dr. Ir (dalam bidang ilmu tertentu). Dengan kata lain, kita memerlukan orang-orang yang menguasai ilmu kesehatan atau kedokteran namun hapal Al-Qur’an, ibadahnya bagus dan tentu saja akhlaknya terpuji. Kita butuh banyak sekali Ahli pertambangan yang tahajjudnya tidak pernah tinggal. Ahli kimia yang rajin membaca Al-Qur’an. Ahli Fisika yang zikirnya tidak pernah putus dan seterusnya. 

Menutup presentasenya, Akmal mengatakan, ada banyak hal yang menarik dari pikiran-pikiran Yudian sebagaimana terlihat dalam karya-karyanya yang cukup banyak. Pikiran-pikiran itu menjadi menarik karena Yudian sesungguhnya tidak “membebek” atau mengulang-ulang pemikiran ulama atau tokoh-tokoh lain. Kendatipun harus mengutip pandangan tokoh lain, Prof. Yudian selalu membacanya dengan sangat kritis. Apakah tawaran pemikiran Yudian mampu mengembalikan kejayaaan umat Islam, sejarah yang akan menjawabnya nanti, Pungkas Akmal.  

share to whatsapp
Mulai Februari 2019 | Meja Inspirasi