13 February 2020



Memulai perkataan dari asa & asas yang kian masih belum cukup terasa pada lingkaran hidup sosial. Kultur yang keras di kota Medan mengkarakterkan masyarakat yang hedonis yang mana hidup dengan kelompok, golongan, marga atau suku-suku, komunitas dsb. Bersosialisasi, namun ke-egoisan masih terpatri

Berkisar 11 ribu lebih masyarakat di Sumut merupakan masyarakat Disabilitas dan separuhnya hidup di kota Medan (data dari Dinsos Pemprofsu) yang mana mereka mengadu nasib diperkotaan ini. Ada yang wiraswasta, buruh, pengajar, dan banyak yang jadi pengemis, dll. Kendatipun demikian mereka adalah masyarakat Medan yang memiliki hak hidup dan hak pilih serta patut diperhitungkan.

Kota Medan yang kini bisa kita juluki dengan kota monopolitan terdapat banyak gedung tinggi menjulang, mall, pusat pasar, perumahan elit, Universitas, yang terbilang  penduduknya sangat padat. Mari kita perhatikan, Sudahkah kota Medan ramah pembangunan atau ramah disabilitas? Maka jawabannya " jangankan ramah disabilitas, kota Medan tertip pun tidak". Lihatlah dari cara masyarakat kota Medan ada yang tidak tertib berkendaraan, tidak tertibnya para pengusaha menata perkantorannya, tidak tertib parkiran dll. Jika tertib maka ramah dalam segala hal.

Lagi-lagi Bobby Nasution turun ke masyarakat Disabilitas. Berkunjung ke Yayasan Pendidikan Dwituna Harapan Baru. Berbincang tentang pengalaman para pengajar dalam mendidik anak berkebutuhan Khusus yang mana pengajarnya juga tuna netra. Pada akun Instagram, Bobby Nasution mengatakan ia banyak mendapatkan inspirasi dan bukan hanya pada perbincangan, saat itu ia sepakat bahwa pembangunan kota harus inklusif. Tidak meninggalkan dan mengabaikan warganya, siapa pun itu.

Saya menyaksikan kegiatan tersebut, bersama guru-guru yayasan saya ikut duduk dengan Bobby Nasution. Tidak hanya  sekali ini saja saya menyaksikan kegiatan Bung Bobby  Nasution. Saya nyatakan ini adalah benar bahwa ia serius ingin membenah kota Medan. Peduli dengan kita, terkhusus kami masyarakat disabilitas dan bukan tameng belaka. Ia mendengarkan dan belajar bersama kami. Ia pantas menang jadi Walikota Medan. Dengan metode Silaturrahmi dan Kolaborasi pada masyarakat kota Medan merupakan trik atau cara bersosialisasinya yang tepat.

Terlepas jika pandangan masyarakat khawatir akan terjadinya penangkapan Walikota Medan atas kejahatan itu terulang kembali. Batapa malunya kita yang tinggal di Medan ini ternyata pemimpin yang kita pilih adalah pemimpin yang tidak benar. Kali ini Bobby Nasution hadir dengan tekadnya yang terus belajar memahami kondisi masyarakat kota Medan. Wajah baru dalam membangun kota Medan untuk lebih maju dan sejahtera. Terima masukan, ide serta saran yang dijadikan sebagai modal kolaborasi.

Saya yakin ia akan terus berjuang dan menuntaskan apa yang menjadi hajadnya, mengklarifikasikan apa yang sepatutnya, Mempertanggungjawabkan visi-misinya. Saya do'akan Bung Bobby Nasution jadi Walikota Medan.  Karena ia datang dengan i'tikad baik.

Al Faury
Pengamat Disabilitas
share to whatsapp
Mulai Februari 2019 | Meja Inspirasi