07 February 2020



Politik, kerap menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan. Milenial yang menjadi incaran bagi para calon Walikota ataupun Bubati membuat hal ini semakin bergengsi. Sebab diikut sertakannya kaum Milenial dalam berpartisipasi sebagai penggerak sosial diberbagai kegiatan yang tujuannya mensosialisasikan bakal calon pemimpin daerah dan kota. Kalangan milenial harus menjadi penting sebagai target setiap sosialisasi dalam upaya meningkatkan partisipasi pemilih. Kita mengetahui saat ini jumlah mereka menentukan karena pengguna aktif internet yang cukup rajin di media sosial.

Namun, kebanyakan anak muda tak menghiraukan akan pentingnya politik. Yang menyebabkan hal ini adalah sebuah cara pandang milenial yang menilai politik cenderung dianggap hanya untuk kepentinga kelompok semata, terlebih berita dari media yang menyebutkan banyaknya kasus penyelewengan wewenang oleh oknum-oknum politik.

Sejenak kita tinggalkan tentang gerakan kaum muda Milenial, kali ini kita ingin mengarahkan pembahasan mengenai kearifan lokal politik milenial yang tentunya di kota Medan. 

Sebentar lagi akan dimulai panggung pagelaran politik pemilihan calon Walikota Medan. Masih ingat kah selogan "INI MEDAN, BUNG" yang mengartikan sebuah karakter masyarakat kota Medan. 

Benar bahwa gaya pesta demokrasi kota Medan terlihat unik. Masyarakat tak mudah dipengaruhi atau dibujuk dengan sebuah janji, tidak hanya sekedar diajak bersilaturrahmi, blusukan atau lainnya. Sudah tak mempan lagi jika menggunakan gaya lama seperti ini. Karenanya masyarakat kota Medan pasti akan melihat komitmen yang tinggi dari para calon Walikota yang dinamis serta bermutu. Sebelum pemilu, masyarakat harus turut mengawasi program-program kerja yang dikampanyekan oleh calon kepala daerah.

Maka sedari itu, kearifan lokal politik milenial yang perlu di perhatikan diantaranya : Pertama, mengenal kandidat. Masyarakat kota Medan harus mengetaui sosok calonnya yang akan didukung. Baik dimulai dari asalnya sampai pada karakter ketokohannya di Kota Medan ini.

Kedua, apa yang menjadi program kerja yang diusung oleh kandidat. Masyarakat kota Medan harus terlebih dahulu memahami visi - misi para calon kepala daerahnya. Agar masyarakat lah yang menilai bahwa calon tersebut mampu mewujudkan apa yang menjadi visi - misinya tersebut serta dapat merealisasikan aspirasi dari masyarakat nantinya saat terpilih.


Kali ini saudara Bobby Nasution telah menebarkan hajatnya yang ingin mencalonkan diri sebagai calon walikota Medan. Maka masyarakat harus mengenalnya secara detail terlebih dahulu. Apakah peranan yang pernah ia lakukan di kota Medan atau hanya mengandalkan garis keluarga terhormat saja? Atau memang ia sudah mempersiapkan diri untuk mengabdi ditanah kelahirannya, tanah kelahiran nenek moyangnya.

Tidak menutupi kemungkinan, akan bermunculan tokoh-tokok Sumatera Utara yang juga berhajat merebut kursi singgasana walikota Medan. Disini, masyarakat juga harus menilai dengan cermat tentang tokoh yang akan maju tersebut. Masyarakat harus benar-benar cardas dalam menentukan siapa yang akan memimpin kota Medan nantinya. Dan tentunya tokoh tersebut (yang akan dipilih) adalah orang baik serta bertanggungjawab atas visi - misi yang dikampanyekannya dan tidak hanya itu, karena yang terpenting saat ini adalah masyarakat kota Medan harus dapat merasakan hidup penuh dengan kesejahteraan, rukun dan modern.

Bagi para calon Walikota ataupun kepala daerah lainnya harus mengingat bahwa kota Medan dan daerah Sumatera Utara beragam suku, komunitas dan penggerak sosial. Contohnya di Sumatera Utara ada Dalihan Natolu, Pujakesuma, Pandawa, LSM, ORMAS, OKP, Ikatan Alumni Pondok Pesantren, Masyarakat Disabilitas, dsb. Sekiranya ia (calon kepala daerah) harus mampu melakukan pendekatannya dengan cara persuasif, elegan dan bijaksana. Mengembalikan cara pandang masyarakat yang menganggap bahwa politik saat ini hanyalah sebuah kepentingan kaum elit semata. Akan tetapi harus mensosialisasikan dengan sebaik mungkin bahwa pesta demokrasi adalah sebua kedaulatan dalam melanjutkan roda pemerintahan dengan mementingkan suatu kebutuhan masyarakat serta kemajuan negara. 

Menutup tulisan ini dengan mengutip pendapat dari sebuah media sosial yang mana kekuasaan itu semestinya dikembalikan kepada rakyat. Tapi tidak salah juga apabila kekuasaan itu kemudian hanya untuk partai politik itu sendiri. Persoalannya tinggal apakah memang kesemuanya itu dikembalikan untuk kepentingan bersama atau hanya untuk segelinter orang tertentu.

Semoga kita dapat memahami betapa pentingnya keraifan lokal politik milenial saat ini. Trims...

Al Faury
di Meja Inspirasi.
share to whatsapp
Mulai Februari 2019 | Meja Inspirasi