13 August 2019



Peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 sudah hitungan jari saja. Seluruh rakyat Indonesia patut mengucapkan rasa syukur atas anugerah kemerdekaan ini. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus memiliki cita-cita dan impian yang besar pula, terutama cita-cita mencerdaskan rakyat Indonesia. Mencerdaskan rakyat Indonesia menjadi lebih mudah karena bantuan dan peran dari Muhammadiyah. Ormas Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta pada 8 Dzhulhijjah 1330 H atau 18 Nopember 1912. Pendiri Organisasi Islam Muhammadiyah adalah Muhammad Darwis dan kemudian dikenal dengan Ahmad Dahlan.
KH. Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis berpikir keras untuk membuat perubahan dan mengatasi keterbelakangan kaum pribumi. Memberantas pembodohan dan pemiskinan akibat kolonialisasi yang sistemik. Hasil berpikir dan usaha ini maka lahirlah Muhammadiyah. Saat ini Muhammadiyah memasuki milad ke-110. Secara usia Muhammadiyah berdiri jauh lebih dulu dibandingkan dengan Indonesia. Bisa dikatakan tokoh-tokoh perintis kemerdekaan Indonesia terlahir dari Muhammadiyah. Dengan kata lain Indonesia banyak belajar dari Muhammadiyah.
Proklamator dan Presiden Indonesia pertama yaitu Bung Karno terlahir dari keluarga besar Muhammadiyah. Contoh lain yaitu Jenderal Sudirman yang merupakan pendiri Hisbul Wathan dan merupakan cikal bakal Pramuka Indonesia juga dari Muhammadiyah. Upaya Muhammadiyah dalam Kemerdekaan Indonesia sangatlah besar. Muhammadiyah berupaya sebagai motor penggerak perubahan. Muhammadiyah selalu memberi inspirasi kepada Indonesia. Jika Indonesia ingin rakyatnya sejahtera maka cerdaskan dan jaga kesehatan rakyatnya.
Pergerakan Muhammadiyah sangat kental di dunia dakwah, pendidikan dan kesehatan. Ciri-ciri perjuangan Muhammadiyah yaitu gerakan Islam, gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar dan gerakan tajdid. Nilai-nilai Islam harus dijunjung dan diamalkan dalam keseharian. Indonesia jangan melupakan gerakan Islam. Penjajah Belanda sejak dulu ingin mengecilkan peran Islam. Seperti Snouck Hurgronje yang berusaha memisahkan antara adat dengan Islam. Maka dimomentum peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia saat ini, kembalikan peran Islam dalam mengukir sejarah Indonesia kedepan. Jangan pisahkan Indonesia dan Islam.
Jangan Hanya Al Maun
            Gerakan awal yang di bangun oleh Ahmad Dahlan ialah dengan membawa surat Al Maun sebagai landasan kesejahteraan, baik untuk kaum yatim, dhuafa, dan fakir miskin. Namun, gerakan itu menurut saya sudah berjalan, hanya saja tinggal meningkatkan lagi untuk menjaga kesetabilan.
            Kita sebagai warga Muhammadiyah yang di era modern ini, patut sudah melangkat untuk menuju kaffah atau melaksanakan aktivitas dakwah dengan landasan seluruh isi Al-Qur’an. Karena ayah di Al-Quran itu bukan hanya satu atau juga satu surat saja. Melaikan Ribuan ayat dan ratusan surat. Maka dari itu berbuatlah yang maksimal untuk menuju kesejahteraan Negara kita melalui Al-Qur’an dan sunnah.
            Di kemerdekaan yang akan datang ini, kita meresolusi lagi bagaimana perjuangan parah pahlawan kita dahulu. Mereka melawan penjajah, mereka melawan kekerasan, Mereka melawan pembodohan, Mereka melawan ketidak adilan internasional, mereka melawan yang menentang Islam. Namun semangat mereka tidak terputus disitu, padahal sebenarnya mereka itu berfikiran tidak mungkin Indonesia merdeka seperti ini dengan massif nya serangan belanda, Inggris, Dan jepang.
            Namun, apakah yang membuat mereka bertahan dan berani melawan komponen ketidak adilan itu?  Ternyata mereka para pejuang Indonesia ini memiliki jiwa yang ikhlas dan religious! Karena ikhlas atau mukhlis itu lah suatu prinsip dimana setan pun takut untuk menggoyangkan manusia. Sesuai isi Al-Qur’an, “Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka" Allah berfirman: "Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (QS. Al Hijr : 39 – 42).
Penutup:
            Negara ini hanya bisa bertahan dan menjadi Negara maju jika para penguasa dan masyarakatnya menerapkan keikhlasan atau menjadi mukhlis bernegara. Karena Ikhlas tidak dapat digoyangkan dengan maksiat; Korupsi, Kolusi, nepotisme dan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari akidah sehingga merugikan genrasi penerus yang mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

share to whatsapp
Mulai Februari 2019 | Meja Inspirasi