11 April 2019

Oleh : Ahmat, S.HI.,LL.M
A.    Pendahuluan
Sekarang ini sudah muncul berbagai kecanggihan yang dapat di gunakan untuk mengatasi kendala-kendala kehidupan..Salah satunya adalah kesulitan mempunyai anak dengan berbagai faktor.Tetapi terkadang kecanggihan teknologi mempengaruhi etika-etika terhadap islam. Kemungkinan kehamilan dipengaruhi oleh usia anda dan kadar FSH basal. Secara umum, makin muda usia makin baik hasilnya. Kemungkinan terjadinya kehamilan juga tergantung pada jumlah embrio yang dipindahkan. Walaupun makin banyak jumlah embrio yang dipindahkan akan meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan, tapi kemungkinan terjadinya kehamilan multipel dengan masalah yang berhubungan dengan kelahiran prematur juga lebih besar. Pengertian mandul bagi wanita ialah tidak mampu hamil karena indung telur mengalami kerusakan sehingga tidak mampu memproduksi sel telur. Sementara, arti mandul bagi pria ialah tidak mampu menghasilkan kehamilan karena buah pelir tidak dapat memproduksi sel spermatozoa sama sekali.
Baik pria maupun wanita yang mandul tetap mempunyai fungsi seksual yang normal. Tetapi sebagian orang yang mengetahui dirinya mandul kemudian mengalami gangguan fungsi seksual sebagai akibat hambatan psikis karena menyadari kekurangan yang dialaminya.
Tetapi istilah mandul seringkali digunakan untuk menyebut pasangan suami istri yang belum mempunyai anak walaupun telah lama menikah. Padahal pasangan suami istri yang belum mempunyai anak setelah lama menikah tidak selalu mengalami kemandulan. Yang lebih banyak terjadi adalah pasangan yang infertil atau pasangan yang tidak subur.Tulisan tentang bayi tabung ini dimaksudkan agr masyarakat terutama dari kalangan agama memberikan tanggapan dan masukan tentang proyek/tim pengembangan Bayi tabung Indonesia yang mulai terbuka untuk peminat bayi tabung.Sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan modern dan teknologi kedokteran dan biologi yang canggih,maka teknologi bayi tabung juga maju dengan pesat,sehingga kalau teknologi bayi tabung ini ditanagani oleh orang-orang yang kurang beriman dan bertaqwa,dikhawatirkan dapat merusak peradaban umat manusia,bias merusak nilai-nilai agama,moral,dan budaya bangsa.

B.     Pengertian dan Reproduksi Bayi Tabung
Menurut Aucky Hinting dari laboratorium Universitas Air Langga, Surabaya, faktor-faktor tidak hadirnya keturunan dalam suatu perkawinan disebabkan tidak berproduksinya sel-sel benih yaitu sperma dan sel-sel telur, dan kegagalan dalam penanaman sel telur yang sudah dibuahi ke dalam rahim.
Tidak bertemunya spermatozoa dan sel telur itu salah satu penyebabnya adalah peradangan selaput lendir dan penyumbatan tuba falofi. Terhadap kemandulan yang disebabkan oleh tersumbatnya tuba falofi ini akan berakibat pasangan suami isteri tidak memperoleh keturunan, maka jalan satu-satunya adalah dengan cara fertilisasi in vitro transfer embrio.[1] Menurut metode ini, sel telur yang sudah masak diambil dari tubuh isteri (indung telur) kemudian dibuahi dengan sel sperma, sperma suami di dalam tabung petri. Setelah terjadi pembuahan, terbentuklah suatu organisme baru yang disebut dengan zygote. Zygote ini mempunyai kemampuan untuk membelah diri dari satu sel menjadi dua sel, empat sel, dan delapan sel. Embrio itu diimplantasikan ke dalam rahim isteri agar dapat tumbuh dan berkembang seperti hal pada kehamilan normal. Bila rahim isteri telah rusak, maka embrio itu dapat diimplantasikan ke dalam rahim wanita yang lain.[2]
Pada mulanya pelayanan program fertilisasi in vitro, bertujuan untuk menolong pasangan suami isteri yang tidak mungkin mempunyai keturunan secara alamiah, karena isterinya mengalami kerusakan pada tuba falofi yang tidak dapat diperbaiki lagi. Selain itu dapat menolong pasangan suami isteri dengan berbagai kelainan dan penyakit lainnya,sehingga secara alamiah mereka tidak dapat hamil, seperti sperma suami yang kurang baik, dan adanya kelainan lendir mulut rahim yang menghalangi masuknya sperma ke dalam rahim.
Untuk melakukan fertilisasi in vitro transfer embrio terhadap tujuh tindakan dasar yang baru harus dilakukan oleh tenaga medis,[3] yaitu:
-      Isteri diberi obat pemicu ovulasi yang berfungsi untuk merangsang indung telur yang mengelurkan sel telur.
-      Pematangan sel telur dipantau setiap hari dengan melakukan pemeriksaan darah isteri, dan pemeriksaan dengan ultra demografi.
-      Pengambilan sel telur dilakukan dengan fungsi (penusukan jarum) melalui vagina dengan tuntutan ultra sonografi.
-      Setelah tenaga medis berhasil mengeluarkan beberapa sel telur, maka beberapa sel telur itu dibuahi dengan sel sperma suaminya.
-      Sel telur isteri dengan sel telur suami sudah ditemukan di tabung petri tes, kemudian dibiakkan di lemari pengeram.
-         Embrio yang berada di dalam tingkat pembelahan sel ini, kemudian diimplantasikan ke dalam rahim isteri.
-      Apabila dalam 14 hari setelah embrio diimplantasikan ke dalam rahim tidak terjadi menstruasi, maka dilakukan pemeriksaan air kencingnya untuk kehamilan.
C.    Prosedur program Bayi Tabung
Untuk pasangan suami istri yang telah memutuskan untuk mengikuti program bayi tabung, diwajibkan untuk menandatangani formulir Informed Consent dan menyelesaikan administrasi sebelum dimulainya program. Sebaiknya hal ini dilakukan satu minggu sebelum perkiraan siklus menstruasi berikutnya, sehingga calon pasien diharapkan benar-benar yakin untuk melakukan program bayi tabung. Pada saat ini calon pasien diharapkan juga telah mengerti mengenai tahap-tahap apa saja yang akan dilakukan setelah mendapatkan penjelasan dari konselor sebelumnya, termasuk cara melakukan terapi suntik dan obat-obatan apa saja yang akan digunakan.
Selanjutnya para calon pasien dipersilahkan untuk menghubungi konselor Teratai pada saat hari pertama haid. Akan sangat membantu jika pasien dapat menyiapkan kalender menstruasi selama 6 bulan terakhir. 

b. Tahapan
Program bayi tabung sendiri akan dilakukan dalam 3 tahap sebagai berikut :
1. Tahap Pre-OPU
Pada tahap ini akan dilakukan Terapi Down Regulation dan Terapi Stimulasi. Down Regulation adalah suatu fase dimana rangsangan otak terhadap ovarium dihentikan dengan penggunaan obat tertentu. Pada fase ini kita ingin menciptakan seperti keadaan menopause dengan tujuan untuk mempersiapkan indung telur menerima terapi stimulasi. Pemeriksaan di tahap pertama ini yaitu pada siklus hari ke 2-5, diawali dengan pemeriksaan hormon LH, FSH, Prolaktin dan Estradiol. Terapi ini berlangsung lebih kurang antara 2 minggu hingga 1 bulan. Alternatif lain yang dapat dilakukan juga untuk istri yang siklus menstruasinya tidak teratur dilakukan Pill Cross Over , sehingga memudahkan pemberian terapi injeksi Buserelin Acetate.

Terapi injeksi Buserellin Acetate dengan dosis 0.5 mg tiap kali suntik. Cara penyuntikan dilakukan secara sub kutan, yaitu tehnik suntik dengan menggunakan syringe pendek dan disuntikkan tegak lurus kira-kira 2 cm dibawah pusar. 

Pada tahapan ini ada beberapa hal yang mungkin dirasakan oleh pasien, seperti halnya keadaan menopause, yaitu perasaah gerah/kepanasan, sakit kepala ataupun perubahan mood. Kadang-kadang juga ditemukan buah dada seperti mengalami pembengkakan. Gejala-gejala ini akan hilang dengan sendirinya pada saat pasien masuk ke tahap berikutnya. Pasien juga ada kemungkinan untuk tidak mengalami menstruasi pada tahap ini.
Kemudian dilakukan pemeriksaan kembali hormon-hormon tersebut diatas atau dilakukan pemeriksaan USG untuk memastikan apakah pasien dapat masuk ke dalam fase berikutnya yaitu terapi stimulasi.
Terapi Stimulasi dilakukan untuk merangsang pertumbuhan folikel pada indung telur sehingga jumlahnya bertambah banyak dan meningkatkan kemungkinan memperoleh sel telur matang pada saat operasi petik ovum dilakukan.
Terapi ini dapat dimulai jika sudah dilakukan pemeriksaan USG oleh dokter ahli dan dari hasilnya terlihat tidak ada folikel yang berkembang di dalam rahim pasien. Selanjutnya dokter ahli akan menentukan berapa besar dosis yang akan diberikan untuk tiap pasien berdasarkan kondisi dan usia yang dialami oleh pasien.
Sama halnya dengan penyuntikan pada terapi down regulation, injeksi stimulasi ini juga dilakukan secara sub kutan dan pada waktu yang sama setiap harinya.. Injeksi ini dilakukan minimal 8 kali hingga 14 kali dengan menyuntikkan obat FSH Recombinant/Gonadotrophin dan dosisnya tergantung dengan kondisi pasien. Kontrol dengan USG dilakukan setelah suntikan stimulasi ke 6 untuk melihat pertumbuhan folikel. Kontrol berikutnya dilakukan pada hari ke 8 untuk melihat apakah sudah terdapat folikel yang matang Jika belum terdapat maka suntikan akan diteruskan hingga minimal ada 3 folikel matang dengan diameter rata-rata 18 mm dan siap untuk di petik melalui operasi petik ovum.
2. Tahap Operasi Petik Ovum (Ovum Pick Up)
Penjadwalan untuk Operasi Petik Ovum dapat dilakukan jika sudah terdapat 3 atau lebih folikel dengan diameter 18 mm. Kadar E2 juga terus dipantau dan harus mencapai 200pg/ml/folikel matang. 
Sebelum dilakukan Operasi Petik Ovum tepatnya 36 jam sebelumnya dilakukan penyuntikkan hCG dengan dosis 5000 IU atau 10,000 IU, besar dosisnya ditentukan oleh dokter ahli.
Pada saat bersamaan berlangsungnya OPU, suami juga harus melalui proses pengeluaran sperma yang dilakukan melalui proses masturbasi di ruangan yang telah siapkan. Pada proses ini tidak diperbolehkan menggunakan pelicin (lubricant) contohnya sabun/baby oil dan lainnya karena dapat menghambat proses fertilisasi/pembuahan.
Sel telur yang sudah terseleksi akan dipertemukan dengan sel sperma yang sudah melalui proses pencucian ( washing) sehingga hanya sel sperma yang sudah terseleksi saja yang akan kita gunakan untuk menghasilkan embryo yang berkualitas baik. Selanjutnya kita dapat masuk ke tahap selanjutnya yaitu proses tandur alih embryo (embryo transfer).
3. Tahap Post OPU
Tahap yang terakhir dalam program bayi tabung adalah Tandur Alih Embryo (Embryo Transfer) yang kemudian dilanjutkan dengan Terapi Obat Penunjang Kehamilan.
Tandur Alih Embryo adalah proses memasukan 2 atau maksimum 3 embryo yang sudah diseleksi ke dalam rahim dengan cara menyemprotkannya secara perlahan ke dalam rahim melalui leher rahim dengan menggunakan alat bantu kateter dan USG. Jumlah embryo yang di tandur alihkan akan ditentukan oleh dokter ahli kami. Sebagai acuan pada pasien berusia sama atau <= 30 tahun maka biasanya jumlah embrio yang ditandur alihkan adalah 2. Jika usia lebih dari 30 tahun maka jumlah embrio yang dtandur alih adalah 3. Sisa embryo yang sudah terseleksi dengan baik dapat dibekukan dan dipergunakan untuk kehamilan berikutnya berdasarkan persetujuan pasien.
Tandur Alih Embryo dilakukan pada hari ke 2 atau hari ke 3 setelah operasi petik ovum dilakukan. Proses ini merupakan proses yang sederhana sehingga tidak ada persiapan khusus yang harus dilakukan pasien seperti halnya operasi petik ovum, karena pada tandur alih embryo ini pasien tidak perlu melalui proses anastesi. Seperti halnya papsmear, biasanya pasien tidak mengalami nyeri yang terlalu berlebihan. Embryo yang siap untuk ditransfer akan diperlihatkan pada layar tv oleh sebelum dilakukan transfer.
4. Tahap selanjutnya adalah Terapi Obat Penunjang
Setelah proses tandur alih embryo berhasil dilakukan, pasien diberikan terapi obat penunjang. Terapi ini bertujuan untuk mempersiapkan rahim menerima implantasi dari embryo yang sudah ditanamkan sehingga embryo dapat berkembang dengan normal.
Pada tahap ini pasien diberikan suntikan hCG pada hari OPU+4 dan OPU+7. Dosis yang biasanya diberikan 1500 IU atau 5000IU, tergantung dengan kondisi pasien.
Selain pemberian HCG, pasien juga dapat diberikan progesterone secara oral selama 15 hari atau penggunaan vagina gel yang digunakan tiap malam sebelum tidur.

D.    Landasan Hukum Dokter Pasien Bayi Tabung
Di dalam al-Qur'an Allah berfirman dalam surah an-Nahl ayat 43 bahwa seseorang yang tidak mengetahui tentang sesuatu disuruh bertanya kepada orang yang mengetahui tentang permasalahan yang dihadapinya.
  
Artinya: dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.
Berdasarkan hal ini, maka dapat difahami bahwa suami isteri yang tidak mengetahui penyebab kenapa mereka tidak mendapatkan keturunan dianjurkan untuk bertanya kepada ahlinya (dokter). Setelah diketahui sebabnya, maka Islam juga menganjurkan untuk berobat. Dalam hal ini, apabila penyebabnya adalah tersumbatnya tuba falofi, harus diatasi dengan jalan fertilisasi in vitro transfer embrio. Tentunya seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa proses bayi tabung itu harus melalui tahap-tahap, salah satunya adalah pemeriksaan dokter terhadap sel telur dan rahim si isteri, jadi apakah itu tidak bertentangan dengan hadis Nabi Saw. yang mengatakan tentang keharaman melihat aurat wanita. Demikian juga hal yang sama disebutkan di dalam firman Allah pada surat an-Nur ayat 30.

Artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat".
Dalam keterkaitan bayi tabung ini, disebabkan tidak ditemukan cara lain untuk memperoleh anak bagi pasangan suami isteri yang mandul kecuali dengan melakukan bayi tabung, maka melihat dan memegang bagian yang tertentu yang diperlukan untuk keperluan pengobatan diperbolehkan ajaran Islam, karena adanya hajat yang tidak dapat dihindari. Dalam hal ini, kaidah usul fiqh mengatakan "hajat itu dapat menempati tempat darurat".[4]


E.     Hukum menyelenggarakan bayi tabung
Penyelenggaraan fertilisasi in vitro transfer embrio pada dasarnya merupakan motivasi pribadi dengan niat yang luhur, yang bertujuan untuk memperoleh keturunan demi tercapainya kebahagiaan rumah tangga dan berlangsungnya generasi manusia yang akan menjadi khalifah Allah di muka bumi ini.
Bila ingin menentukan penyelenggaraan bayi tabung dari segi hukum Islam, diperlukan suatu alat yang dapat digunakan untuk menarik garis hukum dari ayat-ayat al-Qur'an. Alat tersebut ialah kaidah usul fiqh. Salah satu dari kaidah tersebut adalah, "Hukum asal sek adalah haram kecuali datang dalil yang membolehkannya".[5]
Berdasarkan kaidah tersebut dapat difahami bahwa hukum-hukum yang membolehkan sek, salah satunya ialah mereka yang terkait dengan tali perkawinan. Dengan demikian, sel telur yang dipergunakan di dalam proses bayi tabung harus milik suami isteri yang bersangkutan dan benar-benar memerlukan cara inseminasi buatan untuk memperoleh anak, karena dengan cara pembuahan alamiah suami isteri tidak berhasil memperolehanak.[6] Hal ini sesuai dengan kaidah usul fiqh yang berbunyi:


F.      Undang-Undang Bayi Tabung
Salah satu aturan tentang bayi tabung terdapat dalam pasal 16 UU No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan yang berbunyi:
Ayat 1
Kehamilan di luar cara alami dapat dilaksanakan sebagai upaya terakhir untuk membantu uami istri mendapat keturunan
Ayat 2
Upaya  kehamilan di luar cara alami sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 hanya dapat dilaksanakan oleh pasangan suami istri yang sah, dengan ketentuan:
   1.  Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan ditanamkan dalam rahim istri darimana ovum itu berasal 
2 2. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu 
   3.  Ada sarana kesehatan tertentu
Ayat 3
Ketentuan mengenai persyaratan penyelenggaraan kehamilan diluar cara alami sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditentukan dengan P.P 



F. Status bayi tabung
a. Benihnya dari suami isteri
Apabila persyaratan terpenuhi sebagaimana yang terdapat dalam pembahasan sebelumnya, maka baik secara yuridis maupun secara biologis gentika anak (bayi tabung) itu mempunyai kedudukan sebagai anak sah dari pasangan suami isteri. Di antara mereka ada hubungan nasab, hubungan waris mewarisi dan hak perwalian dari orang tuanya dalam akad nikah, nasab, waris dan perwalian dan yang lainnya yang menyangkut dengan martabat manusia.[7]
b. Salah satunya benih dari donor
Penyelenggaraan fertilisasi in vitro transfer embrio dengan sperma donor hukumnya haram.[8] Hal ini berdasarkan hadis Nabi yang mengatakan bahwa tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan spermanya ke dalam rahim orang lain.
Menurut Muhammad Syaltut, pengharaman buatan tersebut dengan sperma donor merupakan pelanggaran dan dosa besar serta setarap dengan zina, hal ini sesuai dengan kaidah hukum "Menghindari mudarat lebih dahulu dari menarik manfaat". 
Kemudian timbul pula permasalahan bahwa bagaimana kalau hasil pembuahan yang embrionya diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain Menurut Yusuf al-Qardawi, hukum yang demikian adalah haram.[9] Sebab hal itu merusak aqidah keibuan, karena ibulah yang lebih berhak melahirkan dan mengasuh anak. Alasan yang diajukan Yusuf Qardawi adalah kaidah fiqh yang mengatakan bahwa kemuderatan harus ditiadakan sedapat mungkin, dan kemuderatan tidak bolah ditiadakan dengan kemuderatan lain."[10]
c. Semua benihnya dari donor
Hukum islam mengharamkan proses bayi tabung yang selnya berasal dari orang yang tidak terikat dalam tali perkawinan yang sah menurut syara'karena hal itu bertentangan dengan nass sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.
G.    Manfaat Dan Akibat Bayi Tabung

Maslahahnya dari bayi tabung adalah bias membantu pasangan suami istri yang keduanya atau salah satu nya mandul atau ada hambatan alami pada suami atau istri menghalangi bertemunya sel sperma dan sel telur.Misalnya karena tuba falopii terlalu sempit atau ejakulasinya terlalu lemah.Namun akibat(mafsadah) dari bayi tabung adalah:
·                     Percampuran Nasab,padahal Islam sangat menjaga kesucian / kehormatan kelamin dan kemurnian nasab,karena ada kaitannya dengan kemahraman (siapa yang halal dan haram dikawini) dan kewarisan.
·                     Bertentangan dengan sunnatullah atau hukum alam.
·                     Inseminasi pada hakikatnya sama dengan prostitusi/ zina karena terjadi percampuran sperma dengan ovum tanpa perkawinan yang sah.
·                     Kehadiran anak hasil inseminasi  buatan bisa menjadi sumber konflik didalam rumah tangga terutama bayi tabung dengan bantuan donor merupakan anak yang sangat unik yang bisa berbeda sekali bentuk dan sifat-sifat fisik dan karakter/mental si anak dengan bapak ibunya.
·                     Anak hasil inseminasi buatan/bayi tabung yang percampuran nasabnya terselubung dan sangat dirahasiakan donornya adalah lebih jelek daripada anak adopsi yang pada umumnya diketahui asal dan nasabnya.
·                     Bayi tabung lahir tanpa proses kasih sayang yang alami terutama pada bayi tabung lewat ibu titipan yang harus menyerahkan bayinya pada pasangan suami istri yang punya benihnya,sesuai dengan kontrak,tidak terjalin hubungan keibuan anatara anak dengan ibunya secara alami
Mengenai status anak hasil inseminasi dengan donor sperma atau ovum menurut hukum islam adalah tidak sah dan statusnya sama dengan anak hasil prostitusi.UU Perkawinan pasal 42 No.1/1974:”Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah”maka memberikan pengertian bahwa bayi tabung dengan bantuan donor dapat dipandang sah karena ia terlahir dari perkawinan yang sah.Tetapi inseminasi buatan dengan sperma atau ovum donor tidak di izinkan karena tidak sesuai dengan Pancasila,UUD 1945 pasal 29 ayat 1.
      Asumsi Menteri Kesehatan bahwa masyarakat Indonesia termasuk kalangan agama nantinya bias menerima bayi tabung seperti halnya KB.Namun harus diingat bahwa kalangan agama bias menerima KB karena pemerintah tidak memaksakan alat/cara KB yang bertentangan dengan agama. Contohnya : Sterilisasi,Abortus.Oleh karena itu pemerintah diharapkan mengizinkan praktek bayi tabung yang tidak bertentangan dengan agama.


 Daftar Bacaan

Daruddin, Muhammad, ReproduksiBayi Tabung t.p.: t.pn., t.th.
Khallaf, Abdul Wahhab, Ilmu Usui Fiqh Kairo: Maktabah al-Dakwah al-Islamyah, 1968.
Qardawi, Yusuf, Fatwa-fatwa Mutakhir Bandung: Mizan, 1995.
Umam, Khalil, Agama Menjawab Tentang Berbagai Masalah Abad Modern Jakarta: Ampel Suci, 1997.
Yahya, Mukhtar, Dasar Pembinaan Hukum Fiqh Bandung: Al-Ma'arif. 1988.
Zuhdi, Masjfuk, Masa'H Fiqhiyyah Jakarta: Haji Masagung, 1989.
Anonym, 2010, "Langkah-langkah Proses Bayi Tabung" (online) http://www.vivo.colostate.edu/hbooks/pathphys/endocrine/hypopit.html. Diakses pada 28 Juli 2015. 
Anonym, 2010, "Perkembangan Mahluk Hidup", Crayonpedia (online) http://www.sci.uidaho.edu/med532/hypothal.htm. Diakses pada 28 Juli 2015. 
Anonym, 2011, "Pembuahan", (online) http://www.wikipedia.com. Diakses pada 28 Juli 2015. 
Nirwana, 2010, “Tahapan Bayi Tabung” Nirwanaworld (online) http://rnrian89.blogspot.com. Diakses pada tanggal 28 Juli 2015.
Reno, 2010, “In Vitro Fertilization” (online) http://bayitabung.blogspot.com. Diakses pada tanggal 28 Juli  2015.





32  Muhammad Daruddin, ReproduksiBayi Tabung (t.p.: t.pn., t.th.), h. 30.
33 Ibid.
33 Ibid., h. 35-36.
[4] Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Usui Fiqh (Kairo: Maktabah al-Dakwah al-Islamyah, 1968), h. 208.
[5] Mukhtar Yahya, Dasar Pembinaan Hukum Fiqh (Bandung: Al-Ma'arif. 1988),
[6] Khalil Umam, Agama Menjawab Tentang Berbagai Masalah Abad Modern (Jakarta: Ampel Suci, 1997), h. 44.
[7] Daruddin, Reproduksi, h. 133.
[8]Masjfuk Zuhdi, Masa'H Fiqhiyyah (Jakarta: Haji Masagung, 1989), h. 25
40  Yusuf Qardawi, Fatwa-fatwa Mutakhir (Bandung: Mizan, 1995), h. 721.
41  Ibid.
share to whatsapp
Mulai Februari 2019 | Meja Inspirasi