14 February 2019



Meningkatkan Literasi Bisnis Syariah
Oleh: Al Bara
Dosen Bisnis Manajemen Syariah FAI UMSU Dan Aktivis DPD IMM Sumut

baiknya untuk meningkatkan literasi bisnis syariah, pemangku kepentingan juga mensosialisasikan esensi syariah kepada masyarakat non muslim. Dan untuk non muslim, tidak perlu ragu dengan sistem syariah yang kita bangun sekarang ini, karena dari sisi keuntungan bisnis, syariah tidak membedakan-bedakan antara muslim dan non muslim, semua rata dan adil        
            Problem terbesar dari sistem syariah, terutama di sektor industri keuangan syariah, berada di fundamental; tidak perduli mahal mudharabahnya (bagi hasil) yang penting syariah. Dan minim pengetahuan dari masyarakat terkait apa itu syariah dan bagaimana pemahaman serta penerapannya. Kemudian, tingkat literasi ekonomi syariah di masyarakat masih tergolong rendah. Berdasarkan indeks literasi secara nasional, ekonomi syariah masih di angka 8,11 persen.
            Informasi ini diambil dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yaitu pada survey 2016 yang dilakukan OJK. Dari data tersebut, memberikan bukti bahwa meski penduduk kita mayoritas muslim terbanyak di dunia namun untuk jualan syariah masih melambat dan kurang menarik. Itu disebabkan masih rendahnya literasi masyarakat terhadap industri keuangan syariah.
            Selain itu, banyak dari kalangan masyarakat di Indonesia, memahami syariah ini hanya pada bank-bank saja, seperti Bank Umum Syariah (BUS), Badan Usaha Syaria (BUS) dan ditambah dengan jasa Asuransi Syaria. Padahal, syariah esensinya luas di berbagai sektor. Bahkan syariah merupakan suatu sistem yang di berikan kepada manusia untuk seluruh manusia, agar mencapai kehidupan yang adil dan sejahtera (Falah). Ironisnya lagi, sudah mengetahui namun tidak ada kontribusi untuk kemajuan industri keuangan syariah. Minimal menyimpankan uangnya ke bank syariah atau melakukan kerjasama dengan bank syariah di sektor bisnis lain.
            Seharusnya jika kita masih beragama Islam, kita harus memprioritaskan bisnis yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Banyak bank syariah yang sudah di buka dan masyarakat muslim harus cerdas untuk membantu menuju falah-nya keuangan syariah. “jika kita merasa muslim, pilihan nomor satu kita adalah syariah, bukan konvensional”. Sebagai masukan untuk kita semua masyarakat Indonesia, dipasar global, Negara kita masuk dalam daftar sepuluh Negara yang memiliki indeks keuangan syariah terbesar di dunia. Meski kita masuk dalam daftar tersebut, pertumbuhan keuangan syariah kita belum mampu mengimbangi keuangan konvensional.
            Hal ini dapat kita lihat sumber datanya dari market share keuangan syariah yang secara keseluruhan masih di bawah 5 persen. Namun demikian, masih ada upaya peningkatan yang dapat dilakukan lagi. Karena beberapa produk market share nya diatas 5 persen. Seperti aset perbankan syariah di akhir 2016 secara keseluruhan di angka 5,33 persen, Sukuk Negara 14,82 persen, lembaga Pembiayaan syariah (LPS) 7,24 persen total pembiayaan, jasa keuangan syariah khusus 9,93 persen, lembaga keuangan mikro syariah 22,26 persen.
            Sedangkan produk syariah yang pangsa pasarnya di bawah 5 persen yaitu sukuk korporasi beredar 3,99 persen antara sukuk dan obligasi korporasi. Nilai bersih aktiva reksa dana syariah dan asuransi syariah 3,44 persen. Selain itu emiten dan perusahaan publik yang memenuhi keriteria sebagai saham syariah 55, 13 persen, tercatat dari BEI . Artinya apa? , angka tersebut memberikan bukti nyata keuangan syariah di Indonesia harus terus di tingkatkan agar dapat mengimbangi bank konvensional. Darimanakah peningkatan itu di dapat? Yaitu dari saya, kita semua masyarakat Indonesia, khususnya yang beragama muslim. Roadmap 2017-2019 Pengembangan Keuangan Syariah Di Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan industry keuangan syariah. jika di akhir 2019 ini masih stagnan pertumbuhan industri keuangan syariah di Indonesia, baiknya ini menjadi bahan koreksi kita semua dan praktisi khususnya.
            Saran agar semua muslim bersinergi meningkatnkan pertumbuhan bank syariah ini, semata-mata bukan suatu cara yang curang agar konvensional hilang dari perdaran. Namun, untuk membuktikan kepada pasar dunia, bahwa syariah mampu unggul dan menjadi contoh bagi perbankan konvensional, agar merubah sistem lamanya menjadi syariah. walaupun masih di selimuti beberapa masyarakat non muslim dan kaum sekuler. Bahkan tidak ada kerugian bagi non muslim untuk bersinergi ke bank syariah demi kemashlahatan kita semua, karena sistem mudharabah di industri keuangan syariah tidak ada pembeda dia muslim atau non muslim. Semuanya sama dan adil sesuai volumnya. Jika ingin membuktikan, silahkan anda bergabung dan lihat halisnya di kemudian hari, insyaAllah ada bukti.
Bisnis Syariah
            Artinya, jangan hanya industri keuangan syariah saja yang di genjot untuk mengimbangi konvensional. Namun, bisnis di pasar juga harus di perhatikan. Seperti binis mikro UMKM, Jasa, manufaktur dan kesetabilan harga pangan pasar tradisional. Utamanya pelaku usaha kecil dan menengah, membutuhkan penyaluran dana syariah agar bank syariah mampu bersinergi dengan para pelaku usaha. Berdasarkan hasil survey saya di pasar tradisional, kebetulah penulis merupakan salah satu anggota Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia di Sumatera Utara (Sumut), banyak para pelaku usaha kecil, meminjam uang ke rentenir untuk menutupi kebutuhan mendadak mereka. Tidak menutup kemungkinan di provinsi lain.
            Kasus ini bukan dirasakan oleh kalangan non muslim saja, bahkan muslim sendiri pun yang sudah mengetahui hukumnya, ikut terlibat dalam praktik riba. Tentu saya tidak bisa menyalahkan mereka semata, karena mereka juga memiliki alaan yang logis. Dari masalah term of payment (TOP) atau jatuh tempo bon mereka, lalu naik turunnya daya beli, sehingga mereka menanggung kerugian dan tingginya harga sewa yang tidak sesuai pendapatan. Sehingga membuat mereka memicu untuk berbuat riba; mudah dan praktis, cukup KTP dan KK saja. Namun sulit melepasnya, mungkin itu konsekuensi Allah terhadap pelaku riba.
            Dalam kasus ini, bagaimana para praktisi mampu meningkatkan sosialisasi ke masayarakat, khusunya pelaku usaha agar memahami tentang syariah sehingga litersi bisnis syariah mampu terealisasikan dengan maksimal. Dan bank syariah juga harus mampu berperan untuk menuntaskan gerakan rentenir yang merusak para pelaku usaha dengan cara menutup hutang yang terlibat rentenir dan menyalurkan modal hangat kepada pedagang. Sehingga ketenangan mereka mampu membuat mereka lebih maksimal dalam menjalankan usahannya.
            Selain itu, perlu adanya kesadaran bagi warga muslim yang memiliki harta lebih, sebaiknya jangan disimpan dan di endapkan saja harta tersebut. Harta lebih yang anda miliki, baiknya di simpankan ke bank syariah agar bank syariah mampu funding dana dan landing dana untuk meningkatkan pertumbuhan dari sisi mikro dan mempercepat peningkatan literasi bisnis syariah di Indonesia.
Penutup:
Peningkatan literasi bisnis sebaiknya dilakukan secara maksimal. Dan pihak praktisi jangan hanya ‘main sediri’, libatkan beberapa tokoh agama, seperti tokoh-tokoh ormas Islam dan para akademisi di universitas baik mahasiswa maupun dosen agar membantu dan meringankan konsep penerapannya dilapangan. Dan ada tiga konsep yang mungkin bisa membantu yang penulis kutip dari sumber OJK pertama, meningkatkan kapasitas, seperti infrastruktur kelembagaan dan ketersediaan produk industry keuangan syariah yang lebih kompetitif dan efisien. Kedua, memperluas akses terhadap produk dan layanan keuangan syariah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan yang ke tiga, meningkatkan inklusi produk keuangan syariah dan koordinasi dengan stake holder atau pemangku kepentingan untuk memperbesar pangsa pasar Indonesia.
share to whatsapp
Mulai Februari 2019 | Meja Inspirasi