14 February 2019




Aktivis Menjadi Pebisnis

Oleh: Al Bara.

Banyak macam cara berfikir masyara­kat dalam me­nyi­kapi kondisi pereko­no­mian Negara yang sedang menga­lami tur­­bulensi saat ini. Ada yang meng­hina atau menghujat bahkan ingin meng­gan­ti pre­siden, dan ada pula yang turun ke ja­lan de­ngan tujuan menyampaikan as­­pi­rasi (aliansi mahasiswa) yang me­nun­tut agar pemerintah, melalui Bank Indo­nesia (BI) mengembalikan marwah ru­piah akibat tekanan dolar, yang men­capai 15.000 per dolar dan lain sebagai­nya. Ya terserahlah, saya tidak ikut cam­pur dengan ‘mereka’ apalagi meng­hu­jat pen­­demo atau menghalang-hala­ngi, ka­rena posisi saya sebagai akade­mi­si hanya mampu berkontribusi melalui pemikiran yang tertuang dalam tulisan.


Aktivis merupakan orang yang aktif dalam berorganisasi, baik internal kam­pus se­perti Badan Eksekutif maha­sis­wa (BEM) maupun organisasi ekster­nal kam­pus seperti Or­ga­nisasi kepemu­da­an (OKP) dan lain sebagainya. Ber­bi­cara ten­­­tang gerakan mahasiswa, khu­sus­nya lem­baga kam­pus. tidak bisa di pung­kiri bah­wa dok­trin utama dari para senior-se­nior­nya itu untuk melakukan aksi un­juk rasa dengan tujuan meng­kri­tisi ke­bi­jakan pemerintah. dengan re­ferensi yang di sam­pai­kan kepada para ma­ha­siswa baru dalam moment masa ta­aruf, me­nyangkut eksistensi aktivis yang me­miliki sejarah pada tahun 1998 dengan lengsernya Presiden ke dua Soe­harto yang dimontori oleh aktivis.

Tak jarang pula yang saya temui dari be­berapa kalangan ak­tivis, bahkan masih ter­golong dini, sudah merasa ‘dirinya ba­gian dari gerakan reformasi di tahun 1998’. Ironisnya lagi, ada mahasiswa yang aktif­nya luar biasa di organisasi, na­mun prestasi hardskill tersebut menyang­kut Indeks Penilaian Komulatif (IPK) an­jlok, ada yang tamat kuliah sampai 6 ta­hun bahkan ada yang sampai di drop out (DO) oleh pihak kampus. Sampai-sam­pai orang tua datang ke pihak kam­pus dan kelim­pung­an atas peristiwa DO yang me­landa anak­nya. “Uang kuliah dikasih, bulanan lancar kok anak saya bisa tidak tamat

Sah-sah saja untuk melakukan gera­kan demonstrasi sebagai wu­jud kepeduli­an kita terhadap kondisi realitas sosial. Me­ng­ingat adanya Tri Dharma Perguru­an Tinggi (TDPT), yaitu pertama pendi­di­kan dan pengajaran, penelitihan dan pe­ngem­bangan serta pengabdian kepada ma­syarakat. Point ke tiga; pengabdian kepada masyarakat, inilah yang men­da­sari salah satu dalil aqli untuk gerakan de­monstrasi. Namun jangan ha­nya se­ba­tas dipahami sampai situ saja. Pengab­di­an terhadap masya­rakat itu maknanya sa­ngat luas bahkan mengarah kepada is­tilah filantropi kaffah bermasyarakat.

Sebenarnya, seorang aktivis yang cerdas itu mampu menilai suatu narasi yang dibangun dalam internal organisasi melalui doktrin para senior. Agar menyi­kapi dengan analisis yang tajam, mana yang bermanfaat dan mana yang terkesan Wasting­ Time atau buang-buang energi, fi­nancial dan waktu. Jika demonstrasi itu me­­miliki manfaat, apa yang dapat di ha­silkan dari demo tersebut? Uang, jabatan, ke­puasan, atau mengarah kepada peme­ra­san?. Kita bisa sama-sama menyak­si­kan peristiwa di tahun 1998, bagaimana dampak negatif dari Negara pada peristi­wa itu. Bukan satu atau dua orang saja yang menjadi korban kekerasan, kedzoli­man, pemerkosaan, pemerasan, pembu­nuh­an, penindasan, penculikan, peman­fa­atan dalam kesempitan; seperti bank-bank yang sengaja tutup agar mendapat uang jaminan dari pemerintah, penja­rah­an dan lain sebagainya.

Tentunya peristiwa 1998 itu masih me­nyisakan rasa trauma kita bersama dan saya yakin kita semua tidak meng­ingin­­kan tragedi itu terulang kembali. Se­telah selesai menjalani krisis di tahun 98, masuk lagi krisi ke dua di tahun 2008 ter­kait penyebab eksternal dari krisis ke­ua­ngan yang melanda Eropa dan Ame­rika. Namun krisis tersebut perlahan mam­pu di netralisisr dengan menjaga efi­siesi da­­la­m negeri dan menjaga pasar, baik pa­sar lokal maupun pasar ekspor. Se­lain itu, pe­merintah juga membuat ke­bi­jakan peng­hematan ang­garan dan pe­ngu­rangan sub­sidi BBM melalui konver­si minyak ta­nah diganti ke LPG dan menaik­kan harga BBM pada bulan Mei 2008. Kemudian aturan monito­ring devisa membuat kita mampu me­lalui krisis 2008 dengan baik.

Jika pada tahun 2008 saja kita mampu me­ngendalikan kri­sis dengan metode kon­vensional, mengapa saat ini, penyele­sai­an krisisnya dengan cara yang hampir me­ngarah pada trage­di demonstrasi 1998? Yang itu merupakan cara konven­sio­nal yang seharusnya kita kubur seda­lam-dalamnya agar tidak terulang.

Pengusaha Muda

Negara ini saya ibaratkan seperti se­buah mobil yang kita sayang. Jika kita me­miliki sebuah mobil, tentu kita akan mera­­watnya dengan baik dan memper­gu­na­kannya dengan cara yang tepat pula agar mobil tersebut bisa menghasilkan ke­un­tung­an dan keren dipandang. Na­mun, apabila mobil tersebut meng­alami musibah, seperti bocor ban, tentu kita akan menambal ban tersebut tanpa men­jual mobil kita apalagi menabrakan mo­bil tersebut karena kesal ban nya bocor. Begitu juga dengan Negara ini, Negara ini butuh solusi yang menurut saya ada di anda-anda yang memiliki men­­tal baja dan kecer­das­an inte­lektual. De­­ngan intelektual anda, anda mampu men­jadi pelaku industri sebuah produk hingga mencapai ekspor, menjadi pengu­saha, or to be leader and entrepreneur di kemu­dian hari secara as soon as possible.

Jika anda berani dan lantang di aspal de­ngan memegang TOA dan teriak-te­riak da­lam mengkritisi pemerintah, ter­uta­ma kepada presiden, yang sangat meng­­habiskan waktu dan tenaga anda. bah­kan memiliki resiko yang besar ka­rena harus berha­dapan dengan aparat ke­po­lisian dan penguasa-penguasa. Me­nga­­­pa keberanian itu tidak anda tuang­kan da­lam dunia bisnis meskipun tanpa modal fi­nansial. Sedang­kan anda memi­liki mo­dal keberanian dan jiwa idealis, jujur dan amanah serta men­junjung tinggi nilai-nilai kebenaran. De­ngan modal itu, mung­kin para investor be­rani memodali se­cara finansial kepa­da anda. Dan anda bisa membuat sebuah pro­duk yang ber­man­­faat. Bukankah pro­duk­tivi­tas mampu mengalahkan per­ma­salahan eko­nomi yang mengeras?.

Tidak hanya itu, bukankah didalam struk­tur organisasi yang kita jalankan me­miliki konsep kewirausahaan? Lalu de­ngan cara apa kita mampu mengerak­kan roda organisasi tanpa karya eko­nomi. Selama ini, organisasi mahasiswa khu­­sus­nya, terke­san dengan ‘pengemis in­­telek­tual’, dengan membondong pro­po­­­sal kemana-mana. Mulailah berfikir un­­tuk merubah cara yang lama agar di de­­sign sebaik mungkin, dikemas dengan ra­­pih untuk menumbuhkan jiwa organi­sasi yang berorientasi pengem­bangan li­terasi eko­nomi generasi muda. Dan itu di­mulai dari anda, saya dan yang mem­baca.

Perlu diketahui bahwa, mengapa ne­gara-negara seperti Uni Eropa, Ameri­ka, Uni Emirat Arab, maju perekono­mian­nya. Bahkan mohon maaf, ambil positif­nya saja, Ame­rika mampu ber­buat sesuka ha­tinya de­ngan mengkotak-katik per­eko­no­mian du­nia?, karena para pemuda me­reka mem­­fo­kuskan sibuk dengan aka­de­misi il­miah dan jiwa wirausahanya, tidak ‘men­cam­puri’ urusan peme­rin­tah­nya apa­lagi kebijakan-kebijakan yang ber­sifat memba­ngun, mereka kritisi seo­lah-olah mereka berkuasa, seperti para ak­ti­vis di Indonesia.

Kesimpulan dari opini saya, bahwa de­monstrasi gerakan mahasiswa bukan za­mannya lagi untuk merubah arah In­done­sia, melainkan dengan cara pe­ning­katan literasi gerakan peng­usaha muda. Jika ingin memberikan kritikan terha­dap kebi­jak­an-kebijakan pemerin­tah, berilah kritikan tersebut yang ber­sifat memba­ngun, tanpa mengedepankan ke­­bencian serta ikut-ikutan tanpa menge­ta­hui per­masalahan. Jadilah peng­usaha de­ngan me­ngedepankan karya nyata. Ja­ngan ha­biskan waktu mu­da kita dengan cara yang lama, Semoga bermanfaat. ***

Penulis adalah Dosen Bisnis Manajemen Syariah FAI UMSU Dan Ketua DPD IMM SUMUT P.A 2018-2020

Nb: Artikel ini sudah pernah terbit di Harian Analisa
share to whatsapp
Mulai Februari 2019 | Meja Inspirasi